LEGIWON

Berhenti Jadi Fotokopi Berjalan

Pernah nggak, kamu merasa jadi manusia paling pinter sedunia hanya karena habis baca buku? Rasanya kayak habis menang lotre kehidupan. Aku juga begitu. Satu buku selesai, langsung merasa kayak Einstein yang terlahir kembali, lengkap dengan rambut acak-acakan dan kecintaan pada gravitasi. Tapi tunggu dulu, buku itu ternyata ada di rak semua orang. Persis. Seolah-olah hidup kita sudah jadi katalog perpustakaan umum yang diputar ulang.

Aku masih ingat waktu baca buku best-seller yang katanya “akan mengubah hidupmu selamanya!” Judulnya nggak usah disebut, takut jadi trending lagi gara-gara aku. Intinya, buku itu penuh mantra motivasi seperti, “Bangun pagi! Dunia milik orang-orang yang bangun lebih awal!” Aku yang waktu itu langganan bangun siang sambil sarapan martabak langsung ngerasa tersindir.

“Ini dia! Aku harus berubah!” pikirku. Malamnya, aku set alarm jam empat pagi. Begitu alarm berbunyi, aku lompat dari kasur seperti kesurupan ayam jago. Bikin kopi, buka laptop, dan… ketiduran di depan layar. Jam lima pagi aku bangun lagi, leher miring kayak habis yoga level dewa, sambil mikir, “Kenapa hidupku malah makin rusak?”

Di sinilah aku teringat kutipan Haruki Murakami: “Jika kamu hanya membaca buku-buku yang dibaca orang lain, kamu hanya berpikir seperti orang lain berpikir.” Sadis, tapi lebih pedas dari sambal matah. Saat itu aku sadar, aku bukan cuma baca buku itu, tapi juga rela menyewakan otakku untuk disetir orang lain. Aku lupa bertanya, “Apa ini beneran cocok buat aku, atau cuma ikutan tren?”

Lalu aku mulai merenung, kenapa sih aku selalu ikut-ikutan? Apa aku takut nggak dianggap keren? Apa aku cuma malas mencari jalanku sendiri, jadi lebih nyaman hidup dalam bayangbayang buku orang lain?

Coba bayangkan, kalau hidup ini adalah taman bermain, semua orang antre main perosotan yang sama. Saking panjangnya antrean, ada yang sampai bawa tikar dan bekal nasi bungkus. Seru sih,  tapi apa nggak bosen? Kenapa nggak coba jungkat-jungkit, ayunan, atau malah bikin permainan baru yang belum pernah ada?

Akhirnya, aku mulai eksperimen. Kali ini aku pilih buku yang nggak ada di list rekomendasi siapa pun. Bukunya aneh banget—teori tentang kenapa kucing lebih suka tidur di kardus daripada di tempat tidur empuk. Awalnya aku mikir, “Apa-apaan ini?” Tapi lama-lama, aku sadar otakku mulai kerja dengan cara yang beda. Aku nggak cuma menyerap, tapi juga mulai bertanya, mengkritik, dan ketawa sendiri.

Mungkin itu yang dimaksud Murakami. Baca buku bukan soal ikut-ikutan, tapi soal menemukan suara pikiranmu sendiri di tengah kebisingan. Nggak semua buku harus cocok sama kamu, dan nggak semua buku yang populer itu harus jadi manual hidupmu.

Dan jangan salah paham, ya. Kamu boleh banget baca buku best-seller. Tapi setelah baca, coba tanya ke dirimu: “Aku setuju nggak sama ide ini? Apa aku cuma terhipnotis karena semua orang bilang ini keren?” Kalau jawabannya cuma ikut-ikutan, ya, selamat! Otakmu sedang jadi fotokopi berwarna.

Hidup ini singkat, kawan. Jangan sia-siakan untuk jadi salinan dari salinan dari salinan orang lain. Kalau kamu bisa menciptakan cara berpikirmu sendiri, siapa tahu suatu hari nanti giliran orang lain yang rebutan baca buku hasil pemikiranmu.

Jadi, kamu mau terus jadi fotokopi jalanan atau mulai bikin jalan baru? Pilihan ada di tanganmu. Tapi kalau aku, udah cukup bosan jadi karbon. Lebih seru jadi grafiti liar di tembok yang nggak ada duanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IB. Wikanda Permana Utama

Writer & Blogger